Mengapa ISLAM diturunkan di ARAB???

Para penulis sirah nabawiyah seperti Syeikh Dr. Said Ramadhan Al-Buthi danbeberapa ulama lainnya memang pernah menuliskan apa yang anda tanyakan. Yaitu tentang beberapa rahasia dan hikmah di balik pemilihan Allah SWT atas jazirah arabia sebagai bumi pertama yang mendapatkan risalah Islam.

Rupanya turunnya Islam pertama di negeri arab bukan sekedar kebetulan. Juga bukan semata karena di sana ada tokoh paling jahat semacam Abu Jahal cs. Namun ada sekian banyak skenario samawi yang akhir-akhir ini mulai terkuak. Kita di zaman sekarang ini akan menyaksikan betapa rapi rencana besar dan strategi Allah jangka panjang, sehingga pilihan untuk menurunkan risalah terakhir-Nya memang negeri Arabia.

Meski tandus, tidak ada pohon dan air, namun negeri ini menyimpan banyak alasan untuk mendapatkan kehormatan itu. Beberapa di antaranya yang bisa kita gali adalah:

I. Di Jazirah Arab Ada Rumah Ibadah Pertama

Tanah Syam (Palestina) merupakan negeri para nabi dan rasul. Hampir semua nabi yang pernah ada di tanah itu. Sehingga hampir semua agama dilahirkan di tanah ini. Yahudi dan Nasrani adalah dua agama besar dalam sejarah manusia yang dilahirkan di negeri Syam.

Namun sesungguhnya rumah ibadah pertama di muka bumi justru tidak di Syam, melainkan di Jazirah Arabia. Yaitu dengan dibangunnya rumah Allah (Baitullah) yang pertama kali di tengah gurun pasir jazirah arabia.

Rumah ibadah pertama itu menurut riwayat dibangun jauh sebelum adanya peradaban manusia. Adalah para malaikat yang turun ke muka bumi atas izin Allah untuk membangunnya. Lalu mereka bertawaf di sekeliling ka’bah itu sebagai upaya pertama menjadikan rumah itu sebagai pusat peribadatan umat manusia hingga hari kiamat menjelang.

Ketika Adam as diturunkan ke muka bumi, beliau diturunkan di negeri yang sekarang dikenal dengan India. Sedangkan isterinya diturunkan di dekat ka’bah. Lalu atas izin Allah keduanya dipertemukan di Jabal Rahmah, beberapa kilometer dari tempat dibangunnya ka’bah.

Maka jadilah wilayah sekitar ka’bah itu sebagai tempat tinggal mereka dan ka’bah sebagai tempat pusat peribadatan umat manusia. Dan di situlah seluruh umat manusia berasal dan di tempat itu pula manusia sejak dini sudah mengenal sebuah rumah ibadah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)

II. Jazirah Arabia Adalah Posisi Strategis

Bila kita cermati peta dunia, kita akan mendapati adanya banyak benua yang menjadi titik pusat peradaban manusia. Dan Jazirah Arabia terletak di antara tiga benua besar yang sepanjang sejarah menjadi pusat peradaban manusia.

Sejak masa Rasulullah SAW, posisi jazirah arabia adalh posisi yang strategis dan tepat berada di tengah-tengah dari pusat peradaban dunia.

Bahkan di masa itu, bangsa Arab mengenal dua jenis mata uang sekaligus, yaitu dinar dan dirham. Dinar adalah jenis mata uang emas yang berlaku di Barat yaitu Romawi dan Yunani. Dan Dirham adalah mata uang perak yang dikenal di negeri timur seperti Persia. Dalam literatur fiqih Islam, baik dinar maupun dirham sama-sama diakui dan dipakai sebagai mata uang yang berlaku.

Ini menunjukkan bahwa jazirah arab punya akses yang mudah baik ke barat maupun ke timur. Bahkan ke utara maupun ke selatan, yaitu Syam di utara dan Yaman di Selatan.

Dengan demikian, ketika Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan diperintahkan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, sangat terbantu dengan posisi jazirah arabia yang memang sangat strategis dan tepat berada di pertemuan semua peradaban.

Kita tidak bisa membayangkan bila Islam diturunkan di wilayah kutub utara yang dingin dan jauh dari mana-mana. Tentu akan sangat lambat sekali dikenal di berbagai peradaban dunia.

Juga tidak bisa kita bayangkan bila Islam diturunkan di kepulauan Irian yang jauh dari peradaban manusia. Tentu Islam hingga hari ini masih mengalami kendala dalam penyebaran.

Sebaliknya, jazirah arabia itu memiliki akses jalan darat dan laut yang sama-sama bermanfaat. Sehingga para dai Islam bisa menelusuri kedua jalur itu dengan mudah.

Sehingga di abad pertama hijriyah sekalipun, Islam sudah masuk ke berbegai pusat peradaban dunia. Bahkan munurut HAMKA, di abad itu Islam sudah sampai ke negeri nusantara ini. Dan bahkan salahseorang shahabat yaitu Yazid bin Mu’awiyah ikut dalam rombongan para dai itu ke negeri ini dengan menyamar.

III. Kesucian Bangsa Arab

Stigma yang selama ini terbentuk di benak tiap orang adalah bahwa orang arab di masa Rasulullah SAW itu jahiliyah. Keterbelakangan teknologi dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai contoh untuk menjelaskan makna jahiliyah.

Padahal yang dimaksud dengan jahiliyah sesungguhnya bukan ketertinggalan teknologi, juga bukan kesederhanaan kehidupan suatu bangsa. Jahiliyah dalam pandangan Quran adalah lawan dari Islam. Maka hukum jahiliyah adalah lawan dari hukum Islam. Kosmetik jahiliyah adalah lawan dari kosmetik Islam. Semangat jahiliyah adalah lawan dari semangat Islam.

Bangsa arab memang sedikit terbelakang secara teknologi dibandingkan peradaban lainnya di masa yang sama. Mereka hidup di gurun pasir yang masih murni dengan menghirup udara segar. Maka berbeda dengan moralitas maknawiyah bangsa lain yang sudah semakin terkotori oleh budaya kota, maka bangsa arab hidup dengan kemurnian niloai kemanusiaan yang masih asli.

Maka sifat jujur, amanah, saling menghormati dan keadilan adalah ciri mendasar dari watak bangsa yang hidup dekat dengan alam. Sesuatu yang telah sulit didapat dari bangsa lain yang hidup di tengah hiruk pikuk kota.

Sebagai contoh mudah, bangsa Arab punya akhlaq mulia sebagai penerima tamu. Pelayanan kepada seorang tamu yang meski belum dikenal merupakan bagian dari harga diri seorang arab sejati. Pantang bagi mereka menyia-nyiakan tamu yang datang. Kalau perlu semua persediaan makan yang mereka miliki pun diberikan kepada tamu. Pantang bagi bangsa arab menolak permintaan orang yang kesusahan. Mereka amat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang paling dasar.

Ketika bangsa lain mengalami degradasi moral seperti minum khamar dan menyembah berhala, bangsa arab hanyalah menjadi korban interaksi dengan mereka. 360 berhala yang ada di sekeliling ka’bah tidak lain karena pengaruh interaksi mereka dengan peradaban barat yang amat menggemari patung. Bahkan sebuah berhala yang paling besar yaitu Hubal, tidak lain merupakan sebuah patung yang diimpor oleh bangsa Arab dari peradaban luar. Maka budaya paganisme yang ada di arab tidak lain hanyalah pengaruh buruk yang diterima sebagai imbas dari pergaulan mereka dengan budaya romawi, yunani dan yaman.

Termasuk juga minum khamar yang memabukkan, adalah budaya yang mereka import dari luar peradaban mereka.

Namun sifat jujur, amanah, terbuka dan menghormati sesama merupakan akhlaq dan watak dasar yang tidak bisa hilang begitu saja. Dan watak dasar seperti ini dibutuhkan untuk seorang dai, apalagi generasi dai pertama.

Mereka tidak pernah merasa perlu untuk memutar balik ayat Allah sebagaimana Yahudi dan Nasrani melakukannya. Sebab mereka punya nurani yang sangat bersih dari noda kotor. Yang mereka lakukan adalah taat, tunduk dan patuh kepada apa yang Allah perintahkan. Begitu cahaya iman masuk ke dalam dada yang masih bersih dan suci, maka sinar itu membentuk proyeksi iman yang amal yang luar biasa. Berbeda dengan bani Israil yang dadanya sesat dengan noda jahiliyah, tak satu pun ayat turun kecuali ditolaknya. Dan tak satu pun nabi yang datang kecuali didustainya.

Bangsa Arab tidak melakukan hal itu saat iman sudah masuk ke dalam dada. Maka ending sirah nabawiyah adalah ending yang paling indah dibandingkan dengan nabi lainnya. Sebab pemandangannya adalah sebuah lembah di tanah Arafah di mana ratusan ribu bangsa arab berkumpul melakukan ibadah haji dan mendengarkan khutbah seorang nabi terakhir. Sejarah rasulullah berakhir dengan masuk Islamnya semua bangsa arab. Bandingkan dengan sejarah kristen yang berakhir dengan terbunuhnya (diangkat) sang nabi. Atau yahudi yang berakhir dengan pengingkaran atas ajaran nabinya.

Hanya bangsa yang hatinya masih bersih saja yang mampu menjadi tiang pancang peradaban manusia dan titik tolak penyebar agama terakhir ke seluruh penjuru dunia.

VI. Faktor Bahasa

Sudah menjadi ketetapan Allah SWT untuk mengirim nabi dengan bahasa umatnya. Agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi antara nabi dan umatnya.

Namun ketika semua nabi telah terutus untuk semua elemen umat manusia, maka Allah menetapkan adanya nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Dan kelebihannya adalah bahwa risalah yang dibawa nabi tersebut akan tetap abadi terus hingga selesainya kehidupan di muka bumi ini.

Untuk itu diperlukan sebuah bahasa khusus yang bisa menampung informasi risalah secara abadi. Sebab para pengamat sejarah bahasa sepakat bahwa tiap bahasa itu punya masa eksis yang terbatas. Lewat dari masanya, maka bahasa itu akan tidak lagi dikenal orang atau bahkan hilang dari sejarah sama sekali.

Maka harus ada sebuah bahasa yang bersifat abadi dan tetap digunakan oleh sejumlah besar umat manusia sepanjang masa. Bahasa itu ternyata oleh pakar bahasa adalah bahasa arab, sebagai satu-satunya bahasa yang pernah ada dimuka bumi yang sudah berusia ribuan tahun dan hingga hari ini masih digunakan oleh sejumlah besar umat manusia.

Dan itulah rahasia mengapa Islam diturunkan di arab dengan seorang nabi yang berbicara dalam bahasa arab. Ternyata bahasa arab itu adalah bahasa tertua di dunia. Sejak zaman nabi Ibrahim as bahasa itu sudah digunakan. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa bahasa arab adalah bahasa umat manusia yang pertama.

Logikanya sederhana, karena ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa bahasa ahli surga adalah bahasa arab. Dan asal-usul manusia juga dari surga, yaitu nabi Adam dan isterinya Hawwa yang keduanya pernah tinggal di surga. Wajar bila keduanya berbicara dengan bahasa ahli surga. Ketika keduanya turun ke bumi, maka bahasa kedua ‘alien’ itu adalah bahasa arab, sebagai bahasa tempat asal mereka. Dan ketika mereka berdua beranak pinak, sangat besar kemungkinannya mereka mengajarkan bahasa surga itu kepada nenek moyang manusia, yaitu bahasa arab.

Sebagai bahasa yang tertua di dunia, wajarlah bila bahasa arab memiliki jumlah kosa kata yang paling besar. Para ahli bahasa pernah mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa arab memiliki sinonim yang paling banyak dalam penyebutan nama-nama benda. Misalnya untuk seekor unta, orang arab punya sekitar 800 kata yang identik dengan unta. Untuk kata yang identik dengan anjing ada sekitar 100 kata.

Maka tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa menyamai bahasa arab dalam hal kekayaan perbendaharaannya. Dan dengan bahasa yang lengkap dan abadi itu pulalah agama Islam disampaoikan dan Al-Quran diturunkan.

V. Arab Adalah Negeri Tanpa Kemajuan Material Sebelumnya

Seandainya sebelum turunnya Muhammad SAW bangsa arab sudah maju dari sisi peradaban materialis, maka bisa jadi orang akan menganggap bahwa Islam hanyalah berfungsi pada sisi moral saja. Orang akan beranggapan bahwa peradaban Islam hanya peradaban spritualis yang hanya mengacu kepada sisi ruhaniyah seseorang.

Namun ketika Islam diturunkan di jazirah arabia yang tidak punya peradaban materialis lalu tiba-tiba berhasil membangun peradana materialis itu di seluruh dunia, maka tahulah orang-orang bahwa Islam itu bukanlah makhluq sepotong-sepotong. Mereka yakin bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang multi dimensi. Islam mengandung masalah materi dan rohani.

Ketika sisi aqidah dan fikrah bangsa Arab sudah tertanam dengan Islam, ajaran Islam kemudian mengajak mereka membangun peradaban materialis yang menakjubkan dalam catatan sejarah manusia. Pusat-pusat peradaban berhasil dibangun bangsa-bangsa yang masuk Islam dan menjadikan peradaban mereka semakin maju.

Logikanya, bila di tanah gersang padang pasir itu bisa dibangun peradaban besar dengan berbekal ajaran Islam, maka tentu membangun peradaban yang sudah ada bukan hal sulit.

Arti Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah

Bismillahirrahmanirrohim…

Jikalau kita melihat ke sejumlah kitab tafsir, maka akan ditemukan begitu banyak pendapat para ulama tentang sakinah, mawaddah, wa rahmah

Al-Qur’an sendiri sebenarnya telah menggambarkan hubungan perasaan di antara pasangan suami-istri sebagai salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah dan nikmat yang tidak terhingga.

 Allah SWT berfirman, artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

(ar-Rum:21)

Istri ialah ibarat tempat suaminya bernaung setelah perjuangannya seharian dijalan Allah, dan menjadi penghibur sang suami setelah dihinggapi rasa letih dan penat. Sang istri lah yang harus menerimanya dengan penuh rasa sayang, wajah yang ceria dan senyum. Ketika itulah, sang suami mendapatkan bahwa istrinya menjadi pendengar yang baik, memiliki hati yang penuh belas kasih serta tutur kata yang lembut sehingga timbullah rasa ketentraman lahir dan batin.

Nah, rasa aman, ketenteraman dan kemantapan didalam kehidupan berumah tangga yang dapat membawa keselamatan bagi seluruh anggota keluarga untuk terus berada dijalan Allah, yang masing-masing daripadanya dapat memenuhi kewajiban dan haknya baik di dunia dan di akhirat, adalah pengertian dari sakinah, mawaddah dan wa rahmah yang dapat ana pahami sejauh ini.


Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan rumah tangga kaum Muslimin menjadi rumah tangga yang selalu diliputi sakinah, mawaddah wa rahmah.

Dan hal ini hanya dapat terealisasi, apabila kaum Muslimin kembali kepada ajaran Rasulullah dan mencontoh kehidupan rumah tangga beliau.

Wallahu ‘alam bishawab

Bukti keaslian Al-Qur’an secara Logika,,,,

Penerang Hidup

Keaslian Al-Quran justru lebih mudah dipastikan secara logika ketimbang secara pemahanan alam ghaib. Dan logikanya sangat sederhana, karena cukup menerima fakta nyata.

Untuk memastikan keaslian Al-Quran yang ada di tangan kita, bahwa dia benar-benar Al-Quran yang turun kepada nabi Muhammad SAW 14 abad yang lampau, kita bisa melakukan serangkaian tes dan pengujian.

Mari kita ambil 5 orang anak usia 10-an tahun dari 5 benua yang berbeda. Dengan syarat, anak-anak itu sudah pernah belajar membaca Al-Quran. Syarat kedua, anak-anak itu tidak saling kenal. Lalu kepada mereka kita minta untuk membaca surat Al-Fatihah bersama-sama. Maka kita akan mendengarkan bacaan yang sama dari mereka. Panjang pendeknya huruf, idgham dan ikhfa’nya, serta makhrajnya, semua akan sama dan berpadu indah.

Sekarang mari lakukan pada 5 anak lain yang beragama kristen. Dari 5 benua yang berbeda, lalu kita minta mereka membaca satu ayat saja dari Bible yang mereka punya. Maka kita akan mendengar kebisingan, karena masing-masing akan membaca ayat itu dengan cara berbeda-beda.

Dan lakukan terus dengan 5 anak lagi, kali ini dengan agama lain, misalnya Hindu, Budha, Shinto. Konghucu dan seterusnya. Maka yang kita dengar hanya kebisingan saja. Sebab ternyata masing-masing anak itu membaca bacaan yang sama sekali berbeda.

Percobaan sederhana ini sudah dengan mudah membuktikan bahwa Al-Quran sampai hari ini tidak pernah mengalami pemalsuan. Bahkan panjang pendeknya tiap-tiap huruf tetap sama, meski yang membacanya anak dari benua Afrika, Eropa, Australia, Asia atau Amerika.

Sebab penyebaran Al-Quran bukan hanya lewat cetakan mushaf, melainkan lewat oral system. Atau talaqqi dari Nabi Muhammad SAW kepada para shahabat, lalu dari para shahabat kepada para tabi’in, terus ke para tabi’it tabi’in. Dan terus menerus bersambung sampai kepada kita hari ini.

Ternyata selama ini banyak umat Islam yang belum tahu, bahwa setiap qari’ (ahli baca quran) punya ijazah dari gurunya. Dan kalau diurutkan, akan terbentuk sebuah silsilah panjang yang akan berujung kepada Rasulullah SAW. Dan pola ini hanya ada di dalam dunia Islam, tidak akan kita temukan di agama lain.

Dan juga tidak banyak yang tahu, bahwa Al-Quran adalah satu-satunya buku di dunia ini yang dihafal luar kepala oleh ratusan juta umat manusia. Sementara Paus di Roma belum pernah kita dengar menghafal luar kepala Biblenya itu. Demikian juga, kita belum pernah mendengar ada pemuka agama apa pun di dunia ini yang pernah menghafal luar kepala kitab sucinya.

Yang menarik, tidak ada satu pun terjadi perbedaan bacaannya. Bila seorang imam shalat salah baca satu ayat Quran, maka semua makmum akan langsung meralat dan membetulkannya. Sehingga kita boleh bilang bahwa sebenarnya kita tidak perlu lagi dengan cetakan AL-Quran, karena sudah dihafal luar kepala oleh ratusan juta manusia.

Bahkan anak-anak usia 10 tahunan di berbagai belahan dunia Islam sudah menghafal 6000-an ayat luar kepala. Ini bukan ceria hayal, melainkan realita. Di negeri kita ada banyak pesantren yang juga mengajarkan hafal Quran, salah satunya Pesantren Yanbu’ul Quran di Kudus, Jawa Tengah. Di pesantren ini, anak kelas 1 SD ditergetkan menghafal 5 juz, kelas 2 10 juz, kelas 3 menghafal 15 juz, kelas 4 menghafal 20 juz, kelas 5 menghafal 25 juz dan kelas 6 menghafal 30 juz. Jadi begitu lulus SD (12 tahun) 30 juz Al-Quran sudah ada di dalam memori otak mereka.

Belum pernah ada sebuah kitab suci di dunia yang bisa dihafal oleh anak SD. Tetapi di Kudus, tiap tahun di wisuda anak-anak SD dengan 30 juz di dalam kepalanya.

Pesankan saya tempat di Neraka

Dalam sebuah perjalanan dari Kairo ke Alexandria tahun 2002,di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk disebut sebagai penutup aurat,karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”

Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.
Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.
Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.

“Bangunkan saja!” kata seorang penumpang.
“Iya, bangunkan saja!” teriak yang lainnya.
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.
Salah seorang mencoba mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi.Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya….
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat…
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah…
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.
Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar…
mumpung kesempatan itu masih ada!

Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a’lam.

What do you say?

Things that human can’t explain is connected to imperfection as sign of human limited. And the end of the answer it will continuously stick on one figure of God.

Human is just too vain. They shout the world with theories showing the excessively opinion of their ability on knowing every substances in detail.

Actually, this is explaining the fact that we are too weak ‘coz not all of the questions that we’ve proposed have the answer.

Religion is like frame of life. It gives us some kind of direction to achieve the final aim ♥ ♥ ♥ ♥

Yang aku tahu,,,,

Yang aku tau,,,,,

Ketika aku berusaha untuk jadi orang yang lebih baik, ketika aku belajar melalui kesalahan, ketika aku belajar mengendalikan diri dengan sabar, Ketika aku belajar mengakui kelemahan dan keterbatasan, dan ketika aku belajar mencintai Allah yang satu melebihi kecintaan aku pada apapun itu,,,

Aku yakin, aku akan bahagia,,,,

Rest

Malas,,, adakah obatnya??

Tadi malam ada mata kuliahPsikologi Industriyang diajarkan oleh Pak Anwar, mata kuliah ini sebenarnya menarik…

 

Dan memang bener-bener menarik…. Huehue

 

Kelas dibuka dengan lontaran pertanyaan mengenai pengertian psikologi industri itu sendiri. Aku langsung mengutarakan pendapatku. Pernyataanku sepenuhnya benar hanya kurang lengkap karena harusnya pengertian tadi dapat dibedakan secara Etimologi dan Terminologi.

 

Pelajaranpun dilanjutkan dengan lontaran-lontaran pertanyaan yang lainnya. Mmm… sepertinya season ini Pak Anwar lebih semangat ngajarin mahasiswanya J… karena begitu banyaknya lontaran pertanyaan yang ia kemukakan. Dan setiap orang dari mahasiswa yang hadir menjawab tiap pertanyaannya satu-satu. Hee…

 

Ada kata-kata unik yang juga disampaikan beliau. Salah satunya adalah Sebenarnya tidak ada orang malas di dunia ini,,, sebenarnya bekerjanya orang dewasa adalah sama dengan bermainnya anak-anak.Tentu saja pernyataan ini menjadi incaran tiap mahasiswa di kelas yang mulai menunjukkan tanda tidak setuju.

 

Aku juga tidak sepenuhnya setuju akan keseluruhan rangkaian kalimat itu. Bagaimana mungkin? Tapi aku setuju pada sisi kalimat: ’Sebenarnya tidak ada orang yang malas di dunia ini. Aku sepenuhnya setuju dengan barisan kata-kata ini.

 

Lantas pernahkah terfikirkan oleh kalian akan kata-kata yang sama? Tidak ada manusia yang malas di dunia ini. Yang ada hanya sekumpulan reaksi atas kurangnya motivasi dan minat serta bakat seseorang mengenai sesuatu hal. Aku akan sangat malas jika disuruh berlari keliling kota ini karena tidak ada alasan yang tepat bagiku (dalam artian disini adalah motivasi) untuk membenarkan bahwa lari keliling kota ini adalah hal yang harus dilakukan dan mendatangkan manfaat bagiku selain dari beberapa kemungkinan yang mungkin timbul yaitu aku pingsan, koma atau mendekati tewas (:

 

Ada yang bilang kan kalo ’malas’ itu ga ada obatnya. Tapi menurutku ada. Yaitu motivasi dan alasan pendorong. Kalau kita mampu memotivasi seseorang untuk melakukan hal apapun itu tentu rasa ’malas’ tadi bisa hilang. Contoh nyatanya saja: sebenarnya tadi malam aku malas untuk datang kuliah. Rasanya lelah setelah seharian bekerja, rasanya lebih baik aku bersantai-santai menghabiskan malam. Tapi kemudian aku teringat sudah berapa banyak penat yang aku rasa dengan bekerja keras untuk menghasilkan uang sendiri dan membiayai kuliah semester ini hingga lunas. Mungkin lelah hari ini tak seberapa. Dan akan terbayar kalau aku lulus nanti… hingga kakiku pun terus melangkah mencapai pintu kelas… Yah, begitulah… Aku telah membuktikannya bahwa Malas itu memang benar-benar ada obatnya J

Realita Kebobrokan dan Keruntuhan Moral Negara BaRat,,,

Masalah kebobrokan moral dan asusila merupakan masalah yang paling serius dan kronis yang dialami oleh masyarakat Barat. Meningkatnya masalah dekandensi moral di berbagai lapisan masyarakat telah menimbulkan kekhawatiran di tengah para pemikir dan pemerintah Barat. Masalah ini telah meninggalkan dampak negatif terhadap fondasi keluarga dan mengacaukan hubungan antara individu dan sosial di Eropa dan Amerika. Noel Hornor, seorang pendeta Amerika dalam sebuah makalah mengenai masalah hubungan seksual yang tragis di negaranya, menulis, “ Masalah asusila melanda semua tempat dan semua kalangan. Mereka semua telah dicengkeram oleh masalah ini. Masyarakat seolah-olah telah ditaklukkan oleh masalah asusila dan mereka tidak lagi bisa membedakan mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat.”

 

 

Meskipun pada masa lalu juga sudah muncul masalah dekandensi moral dan asusila, tetapi pada zaman sekarang, masalah tersebut secara drastis amat merajalela di Barat akibat dari kinerja jahat media massa. Media massa Barat dewasa ini dengan alasan kebebasan, secara brutal menyajikan pornografi untuk ditonton oleh semua orang, termasuk anak-anak. Hubungan seksual merupakan salah satu topik penting dalam acara televisi Barat dan para seniman saling berlomba untuk menyajikan hasil karya mereka di bidang pornografi. Media massa Barat umumnya telah melupakan tugas utama mereka sebagai penjaga moral dan budaya. Mereka kini malah menjadi sumber atau penyebar kefasadan dan kebobrokan moral. Niel Postman, kritikus sosial Amerika, mendeskripsikan fenomena ini  sebagai berikut. Kata-kata malu, harga diri, dan kesucian kini telah kehilangan warna dan  nilainya.”

 

 

Hilangnya rasa malu dalam masalah seksual di Barat telah menyebabkan masyarakat Barat, khususnya anak remaja melibatkan diri dalam hubungan seksual yang bebas tiada batas sehingga menghancurkan sendi-sendi keluarga dan masyarakat. Menurut data statistik, tingkat perkawinan legal di Barat semakin menurun. Artinya, masyarakat lebih senang melakukan hubungan ilegal di luar perkawinan. Suratkabar Amerika Newsweek edisi bulan Januari tahun 1997 menulis: lebih dari separuh anak yang dilahirkan di Swedia, dimiliki oleh ayah-ibu yang tidak menikah. Di Perancis dan Inggeris, angka ini mencapai sepertiganya. Sedangkan di Amerika, tingkat kehamilan di luar perkawinan lebih dari dua kali lipat dibanding yang terjadi di negara-negara Barat lainnya.

 

 

Berdasarkan data dari News And World Report, lebih dari satu juta anak gadis Amerika yang mengandung, 75 persennya adalah tanpa nikah. Dari jumlah tersebut, 80 persen-nya adalah ibu-ibu muda yang miskin dan memerlukan bantuan dari pemerintah. Pusat penelitian ini juga menemukan data bahwa saat ini, setiap dua anak Amerika, satu di antaranya adalah anak hasil hubungan zina. Banyak sekali anak-anak yang tidak berdosa itu yang telah digugurkan.

 

 

Meningkatnya kefasadan moral di Barat diiringi pula dengan berkembangnya kekerasan yang telah meningkatkan angka pemerkosaan, sehingga kini, salah satu sumber ketakutan para wanita Barat ialah perkosaan. Di Amerika saja setiap tahunnya lebih dari 700 ribu wanita telah diperkosa. Lembaga penelitian RAINN dalam laporannya menulis: Dari setiap enam wanita Amerika, seorang darinya telah mengalami pemerkosaan. Lembaga ini juga menyingkapkan realita yang lebih pahit, yaitu bahwa 40 persen dari perkosaan tersebut dilakukan di dalam rumah dan sebagian besarnya oleh orang yang mereka kenali dan  famili terdekat, 20 persen di rumah tetangga, rekan atau saudara, dan 25 persen lagi di lokasi umum. Data bahwa kebanyakan dari pemerkosaan terjadi di dalam rumah dan dilakukan oleh keluarga terdekat, menunjukkan betapa kronisnya keruntuhan akhlak di Barat.

 

 

Poin lain yang menarik untuk kita perhatikan adalah bukan hanya wanita yang diperkosa. Setiap 8 orang korban pemerkosaan, seorang di antaranya adalah lelaki. Angka pelecehan seksual yang menakutkan ini pun masih dianggap rendah karena hanya 40 persen korban pemerkosaan yang mengadukan kasusnya ke polisi. Selebihnya menyembunyikan masalah ini karena malu atau takut karena para pelaku tidak akan dikenai hukuman berat sehingga ada kemungkinan membalas dendam. Para korban pemerkosaan terpaksa menanggung sendiri penderitaan mereka. Mereka menderita sakit fisik dan jiwa, seperti stress, depresi, trauma, mengigau dalam tidur, dan sebagainya.

 

 

Meningkatnya pelecehan seksual terhadap anak-anak merupakan satu lagi masalah tragis yang sedang menimpa Barat. Berita-berita yang diterbitkan mengenai perlakuan pelecehan seksual, menunjukkan bahwa sebagian pemerkosaan terhadap anak-anak itu dilakukan oleh ayah-ibu mereka sendiri. Berlandaskan kepada statistik yang dikeluarkan pada tahun 1996, 31 persen perempuan Inggeris mengalami perkosaan ketika mereka belum mencapai usia  akil baligh. Di Amerika, 15 persen dari korban pemerkosaan adalah anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun. Sementara itu, mafia penyeludupan anak-anak terus saja bebas melakukan kegiatan ilegal, yaitu menyeludupkan anak-anak ke Eropa dan Amerika untuk dijadikan pekerja seks.

 

 

Perkembangan kefasadan dan keruntuhan moral di Barat yang menakutkan ini telah meninggalkan berbagai dampak tragis terhadap masyarakat. Meningkatnya kekerasan, penculikan, penyakit jiwa, kehilangan identitas, penggunaan bahan narkotika, dan runtuhnya institusi keluarga, merupakan sebagian dari dampak kebebasan tanpa batas.  Pemerintah Barat pun tidak berdaya untuk mengontrol penyimpangan akhlak dan asusila di negara mereka, atau minimalnya, mengurangi dampak negatifnya. Noel Hornor menulis: Masyarakat yang meninggalkan fondasi moral akhirnya akan digabungkan ke dalam tong sampah sejarah.

 

 

Dewasa ini, Amerika sebagai sebuah negara adidaya justru merupakan negara yang paling parah menderita masalah kebebasan tanpa batas dan sedang berjalan di atas lorong keruntuhan akhlak. Berlandaskan kepada polling majalah Amerika Newsweek, 76 persen dari rakyat negara ini percaya bahwa negara mereka sedang mengalami keruntuhan moral. Proses kefasadan dalam masyarakat Amerika ini juga menjadi pelopor dalam penyimpangan di peradaban Barat pada umumnya. 

 

 

Fenomena di Barat ini merupakan bukti dari kehancuran manusia yang menjuhkan diri dari jalan Tuhan dan spiritualitas. Orang yang tidak menghambakan diri pada Tuhan yang merupakan kunci kemajuan dan kesuksesan, secara pasti akan menjadi penyembah hawa nafsu dan tenggelam dalam badai besar. Hari demi hari orang-orang Barat semakin merasa jenuh dengan kehidupan materi yang tidak memiliki tujuan dan akhir. Orang-orang yang sadar akan meninggalkan kehidupan seperti itu dan mencari agama dan spiritualitas. Agama yang telah diturunkan oleh Tuhan bagi manusia adalah bersesuaian dengan kehendak fitri manusia. Berlandaskan kepada ajaran agama besar, khususnya Islam, tidak ada satupun dari keinginan manusia, termasuk daya tarik seksual, yang boleh dibiarkan tanpa batas. Agama Islam mengajarkan, naluri manusia haruslah disalurkan di atas jalan alami yakni perkawinan, sehingga kelestarian ikatan kasih sayang dan keselamatan generasi masa akan datang terpelihara.

Dua Keinginan

 

Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap. Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman — berhati-hati tidak menyentuh apapun — sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi.

 

Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, “Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini.

Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!”
Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, “Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku.”
Dan si kaya berkuasa itu bertanya, “Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan.”

Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, “Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku… Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku.

Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian.”
Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.

Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, “Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran.

 

Jangan tinggalkan daku.”
“Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih.”
Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.
Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang — ke dunia — dan dalam bisikan ia berkata, “Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu.”

Tangisan Sang Nabi,,,,,,,

Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, mengangkat kepalanya ke atas, dan semua cabangnya mengarah ke atas. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan kepala mereka, dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping.

Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.

Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji.

Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah.

Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, â€oeAllah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata malaikat itu, Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.

Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. dengan sifat kasih sayangnya berkata,Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.

Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya,Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu? Mereka menangis dan berkata, Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda, Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian. (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).

Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu bertanya kepadanya,Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?
Ia menjawab, Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian. Ali bertanya, Mengapa kamu lakukan itu? Ia menjawab, Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.

Ali berkata, Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, ¦.Demi Allah, Sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah, …Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya, ¦Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf [12]: 92).

Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, Bacakan al-Quran kepadaku. Ibnu Mas’ud berkata, Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau, sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?

Aku ingin mendengarnya dari orang lain,jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga firman-Nya,
Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nisaa [4]: 41).

Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, Cukup.

Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.

Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah sendiri pernah melihat neraka. Dia melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah airmatanya dengan deras.

Abu Dzar Radhiallahu anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118).

Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku? Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, Allahumma salimna ummati. Ya Allah selamatkan umatku.

Keadaan diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam digambarkan Allah Subhanahu wata’ala. dalam firman-Nya, Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 129).

Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi, sebagaimana Nabi mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan airmatanya untuk kita.
Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri?
Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.

Ya Allah, berilah kami karunia untuk mecintai Nabi-Mu dan menapaki jalannya yang lurus, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan. Ya Allah, curahkan shalawat untuk Muhammad selama siang masih berganti malam,
Ya Allah, curahkanlah shalawat untuk Muhammad selama ahli dzikir dan para shalihin melantunkan dzikirnya, Ya Allah, kumpulkanlah kami dengan Nabi kami Muhammad di Surga Firdaus yang tinggi dan sejukkanlah pandangan dan
mata hati kami dengan melihatnya dan berilah kami kesempatan untuk minum dari telaganya, hingga kami tidak akan haus dan dahaga selamanya. Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad , atas segenap keluarga dan sahabat beliau.

Oleh: Chandra .K.